Kamis, 01 Desember 2011

Mengintip Kehidupan Maysarakat Di Sekitar Kita

Pernahkah suatu ketika anda sedang asyik berkendara di jalan umum dengan santainya dan berharap perjalanan itu lancar tanpa hambatan, namun ketenangan itu tiba-tiba sirna seraya terdengar bunyi-bunyian klakson yang bersahut-sahutan antara motor satu dan lainnya tepat berada di jalur berlawanan kendaraan anda?

Setelah diamati, iring-iringan kendaraan itu bukanlah suatu perkumpulan klub motor yang ingin mencari sensasi dan bukan pula sebuah pawai kendaraan hias yang mencoba menampilkan keterampilannya. Ternyata keramaian itu tidak lain adalah sebuah iring-iringan mobil jenazah yang sedang dalam perjalanan menuju lokasi penguburan.



Yang mengherankan dari aksi mereka tersebut ialah cara-cara yang dapat diartikan sebagai kegiatan diluar penalaran sehingga dapat merugikan orang lain. Mengapa? sebab selain membunyikan klakson secara terus-menerus selama perjalanan yang otomatis menyebabkan polusi suara yang siapapun tak menginginkan kebisingan pada saat berkendara maupun rumah-rumah warga yang berada di sekitarnya, juga kegiatan ini secara tidak langsung memaksa agar pengendara lain dari arah berlawanan untuk segera mengemudikan kendaraannya ke pinggir jalan dan stop untuk mematikan mesin. Dan tidak jarang kegiatan ini bertindak negatif seperti menabrak siapapun yang tetap menghalangi jalur 1 badan jalan yang mereka lalui, berteriak memaki dalam penyampaian maksud, dan termasuk juga menghentikan aktivitas perempatan jalan dengan memblokir disetiap jalur lain untuk kenyamanan perjalanan pribadi mereka.

“Bagusnya ini disebut apa ya? citra budaya atau toleransi umat beragama?”

Disini saya tidak menyalahkan siapapun yang pernah melakukannya, karena jujur saya sendiri pernah ikut dalam kegiatan ini, tetapi bedanya yang saya lakukan sedikitpun tidak mengganggu dalam tanda kutip seperti yang saya sebutkan pada alinea 3. Ini sering terjadi di kota saya, dan tak menutup kemungkinan terjadi juga pada kota-kota lainnya. Kembali pada pertanyaan tadi, dimana peristiwa ini pun jarang menjadi bahan diskusi yang mungkin berguna demi menjaga citra daerah yang bakal mungkin rusak oleh kegiatan yang awalnya kita anggap baik namun prosesnya tak dapat diterima oleh akal sehat.

Kira-kira apa ya alternatifnya? sebab bila terus-menerus ada yang seperti ini, bukan tidak mungkin anak cucu kita di masa berikutnya bakal menganggapnya sebagai sebuah budaya yang “harus” untuk dilakukan, karena yang mereka saksikan adalah perilaku terapan yang ada pada saat itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar